Kepada, Alvabethist dan keluargaku.
Dunia ini akan menghadapi salah satu masa terkelam dalam sejarah, dalam perang yang akan mencakup Galaxia, planet kita tercinta. Perang yang dimulai dari pulau Gravinwish, dari sebuah kastil peninggalan Archmage Gravinwish, nama yang diambil untuk pulau itu.
Dunia ini akan menghadapi salah satu masa terkelam dalam sejarah, dalam perang yang akan mencakup Galaxia, planet kita tercinta. Perang yang dimulai dari pulau Gravinwish, dari sebuah kastil peninggalan Archmage Gravinwish, nama yang diambil untuk pulau itu.
Dari desas
desus yang beredar, kastil itu dimasuki oleh The Six Hunters, penjarah yang
terkenal itu. Namun, tidak ada yang pernah melihat mereka keluar lagi. Malahan,
tragedi ini dimulai saat mereka memasuki kastil itu. Mungkin mereka telah
memecahkan segel Archmage Gravinwish yang terlarang.
Jika itu
yang terjadi, maka dunia ini akan dalam bahaya besar. Nama Archmage Gravinwish
terkenal akan kekuatan sihirnya yang menggetarkan Galaxia. Sebelum dia
meninggal, dia menyegel kekuatannya beserta kekuatan kelima muridnya, The Five
Pillars yang masing masing mempelajari sebuah pengendalian elemen.
Pengendalian elemen, yang adalah bagian penting sihir, merupakan kekuatan
terpendam yang mengerikan. Apalagi jika menggunakan energi Ling, atau energi
jiwa yang kabarnya dapat tiga kali lebih kuat dari penggunaan sihir dengan
energi Shen, atau energi tubuh. Sungguh mengerikan.
Kerajaan
kerajaan di dunia harus bersatu jika akan melawan kekuatan sedasyat itu. Jika
kerajaan masih saling berperang, maka Galaxia pasti akan hancur oleh kekuatan
dasyat itu. Semoga mereka cepat bersatu melawan ancaman di depan mata.
Mungkin
saja The Six Hunters telah memecahkan segel itu. Pasukan elemen yang mengerikan
keluar dari kastil itu sesudah mereka masuk. Namun, ada sebuah keanehan dalam
peristiwa ini. Yaitu,bagaimana mereka dapat memecah segel seorang Archmage,
jika mereka hanyalah penjarah.
Ini aneh,
mungkin masih ada pemain dibalik layar yang masih belum diketahui. Saya berharap
kalian yang membaca surat botol ini dapat mencari tahu siapa pemain dibalik
layar itu dan menghentikan perang ini.
Walaupun
perang ini telah dimulai dan kami merupakan korban pertamanya, saya berharap
bahwa kami adalah korban terakhir dari perang ini. Sebarkan berita ini kepada
semua kerajaan agar mereka dapat bersatu menghadapi musuh didepan mata. Agar
saya dapat tenang di alam sana.
Desa Sauronix,7 April
121 SM
Kapten Pasukan Keamanan Desa,
Kapten Pasukan Keamanan Desa,
Irvarn Leshman
_________________________________________________________________________________
Chapter
1 : The Birth of the Masters
Beberapa sosok memandang ke kastil besar
dengan pagar bertembok tinggi diselingi dengan menara -menara yang terlihat berlumut
karena tidak adanya perawatan. Di bawah sinar benderang bulan purnama dalam kegelapan
yang kontras terlihat sunggingan senyum, dari sosok sosok yang memandang kastil
tersebut. Enam sosok bergerak turun dari bukit dan bergerak menuju sebuah desa
di pinggir bukit.
“Apa itu
target kita selanjutnya, Rudy?” tanya seorang wanita berambut panjang yang
diikat ekor kuda. Wajahnya putih, indah yang dapat memikat pria dengan sekali
pandang ke wajahnya. Matanya hitam besar dengan alis indah yang pas dengan
matanya. Tubuhnya ideal dan terlihat lekukan otot kecil di lengannya. Terlihat
sebuah tongkat sihir panjang yang tergantung di punggungnya.
“Ya, itulah
target kita selanjutnya, Alenia. Sebuah kastil megah peninggalan Archmage
Gravinwish! Bayangkan akan apa yang dapat kita jarah dari sebuah kastil megah
tanpa pewaris itu! Itu akan cukup untuk kehidupan selama 7 generasi!” kata
seorang pria gagah yang tampaknya adalah pimpinan kelompok itu. Dia memakai
baju kaos tebal dengan zirah cincin di dalam kaos itu. Terlihat juga sebuah
topi koboi di kepalanya serta sebilah pedang panjang tersarung di pinggangnya.
Wajah dan tubuhnya yang penuh bekas luka mengingatkan dirinya akan pertempuran
pertempuran berbahaya yang telah dia jalani.
“Ya, jika kita
tidak disihir menjadi kodok atau semacamnya saat kita memasuki kastil itu.” Kata
seorang pria pendek dengan dua tombak berkilat setinggi tubuhnya yang diikat
menyilang di punggungnya. Dia memakai kaos kulit tebal dan sepatu bot kulit.
Wajahnya yang tampan juga dinodai oleh bekas luka.
“Ahahahahaha,
kita telah menjalani hal yang lebih parah daripada sekedar menjadi kodok.
Lagipula kita ada dua orang penyihir disini. Tak ada yang perlu ditakuti.”
Mereka sampai
di pintu gerbang desa itu. Pintu gerbang itu hanya berupa kayu tebal yang dibentuk
melengkung dengan sebuah ukiran indah bertuliskan Sauronix.Mereka pun memasuki desa yang masih berkesan alamiah itu.
“Kita sudah
sampai di desa ini. Apa selanjutnya?” kata seorang wanita sambil berceletuk
kecil. Wanita itu berpakaian serba hitam yang cukup ketat dengan sebuah bandana
hitam di kepalanya. Wajahnya cantik namun ternodai sebuah goresan luka yang
memanjang dari tulang pipi kanan ke rahang bawahnya. Namun, tidak ada usaha
sama sekali untuk menutupi atau menghilangkan goresan tersebut. Tangannya
senantiasa memegang sebuah pedang rapier
yang tersarung di pinggangnya. Mungkin akibat fobia.
“Rileks,
Sarah. Saya tidak mengumpulkan kalian semua untuk sebuah perjalanan sia sia.
Saya telah menemukan mantan kepala pelayan Archmage Gravinwish yang akan
memandu kita, suka maupun tidak. Ikut saya.”
Kelima orang
itu mengikuti ketuanya melintasi kerumunan warga desa yang sedang pulang ke
rumah mereka dari sebuah ladang atau tambang yang berada di luar desa ini.
Mereka bergerak ke utara desa itu dan berjalan menusuri sebuah jalan setapak
yang ditutupi oleh rumput tinggi. Di ujung jalan itu terlihat sebuah rumah
sederhana yang sangat terawat, kontras terhadap jalannya yang tidak terurus.
Rumah itu dikelilingi pagar kecil yang terbuat dari kayu yang dicat putih. Di
dalam pagar itu terdapat sebuah taman kecil yang tertata rapi, dengan meja dan
kursi taman kecil yang indah dan cocok untuk minum the sore sambil menikmati
matahari terbenam. Rumah itu dicat putih, seperti pagarnya dan beratapkan
genteng dari tanah liat. Sebuah cerobong asap yang mengepulkan asap menandakan
bahwa masih ada orang di dalam rumah itu. Keenam orang itu memandang cerobong
asap itu sekilas dan memanjati pagar kecil itu dengan mudahnya. Rudy maju dan
dengan sekejap membuka pintu rumah itu dengan dua jarum sederhana.
Rumah itu
diterangi dengan lampu api yang digantung di dinding. Terdengar suara dentingan
besi di balik dapur rumah tersebut. Seorang pria besar kekar dengan pakaian
sederhana dan celana panjang bersenjatakan dua golok yang tersarung di
pinggangnya melangkah ke arah dapur. Terdengar suara teriakan dan hantaman
sebelum seorang pria kurus dengan kaos merah polos dan celana pendek hitam
ditarik keluar. Hidungnya mancung dan bibirnya tersungging tidak senang, serta
matanya menyipit untuk melihat tamu tak diundang dihadapannya.
“Ah… Brixley.
Terima kasih banyak.”
“Kalian siapa?
Mau apa ke rumah saya.” Tanya pria itu tanpa gentar walaupun dipegang orang
yang dua kali lebih besar darinya.
“Ah… Tuan Bond,
kami disini untuk meminta anda memandu kami ke kastil Gravinwish.”
“Oh, kastil
tua itu diselubungi oleh sebuah dinding sihir tak terlihat yang didirikan oleh
Archmage itu sendiri. Bagaimana saya, seorang pria biasa dapat masuk ke dalam
sana?”
“Karena dia
adalah mantan kepala pelayan Archmage itu yang menyelinap untuk mengambil
emasnya.”
“Kau… Darimana
kau tau?”
“
Tidak ada komentar:
Posting Komentar