Sabtu, 01 Desember 2012

Tolong Komen, Kritik dan Kasih Saran (Yg Membangun...TQ)


Kepada, Alvabethist dan keluargaku.
        Dunia ini akan menghadapi salah satu masa terkelam dalam sejarah, dalam perang yang akan mencakup Galaxia, planet kita tercinta. Perang yang dimulai dari pulau Gravinwish, dari sebuah kastil peninggalan Archmage Gravinwish, nama yang diambil untuk pulau itu.

        Dari desas desus yang beredar, kastil itu dimasuki oleh The Six Hunters, penjarah yang terkenal itu. Namun, tidak ada yang pernah melihat mereka keluar lagi. Malahan, tragedi ini dimulai saat mereka memasuki kastil itu. Mungkin mereka telah memecahkan segel Archmage Gravinwish yang terlarang.

        Jika itu yang terjadi, maka dunia ini akan dalam bahaya besar. Nama Archmage Gravinwish terkenal akan kekuatan sihirnya yang menggetarkan Galaxia. Sebelum dia meninggal, dia menyegel kekuatannya beserta kekuatan kelima muridnya, The Five Pillars yang masing masing mempelajari sebuah pengendalian elemen.

        Pengendalian elemen, yang adalah bagian penting sihir, merupakan kekuatan terpendam yang mengerikan. Apalagi jika menggunakan energi Ling, atau energi jiwa yang kabarnya dapat tiga kali lebih kuat dari penggunaan sihir dengan energi Shen, atau energi tubuh. Sungguh mengerikan.

        Kerajaan kerajaan di dunia harus bersatu jika akan melawan kekuatan sedasyat itu. Jika kerajaan masih saling berperang, maka Galaxia pasti akan hancur oleh kekuatan dasyat itu. Semoga mereka cepat bersatu melawan ancaman di depan mata.

        Mungkin saja The Six Hunters telah memecahkan segel itu. Pasukan elemen yang mengerikan keluar dari kastil itu sesudah mereka masuk. Namun, ada sebuah keanehan dalam peristiwa ini. Yaitu,bagaimana mereka dapat memecah segel seorang Archmage, jika mereka hanyalah penjarah.

         Ini aneh, mungkin masih ada pemain dibalik layar yang masih belum diketahui. Saya berharap kalian yang membaca surat botol ini dapat mencari tahu siapa pemain dibalik layar itu dan menghentikan perang ini.

        Walaupun perang ini telah dimulai dan kami merupakan korban pertamanya, saya berharap bahwa kami adalah korban terakhir dari perang ini. Sebarkan berita ini kepada semua kerajaan agar mereka dapat bersatu menghadapi musuh didepan mata. Agar saya dapat tenang di alam sana.
Desa Sauronix,7 April 121 SM
Kapten Pasukan Keamanan Desa,

Irvarn Leshman
_________________________________________________________________________________

Chapter 1 : The Birth of the Masters
        Beberapa sosok memandang ke kastil besar dengan pagar bertembok tinggi diselingi dengan menara -menara yang terlihat berlumut karena tidak adanya perawatan. Di bawah sinar benderang bulan purnama dalam kegelapan yang kontras terlihat sunggingan senyum, dari sosok sosok yang memandang kastil tersebut. Enam sosok bergerak turun dari bukit dan bergerak menuju sebuah desa di pinggir bukit.
        “Apa itu target kita selanjutnya, Rudy?” tanya seorang wanita berambut panjang yang diikat ekor kuda. Wajahnya putih, indah yang dapat memikat pria dengan sekali pandang ke wajahnya. Matanya hitam besar dengan alis indah yang pas dengan matanya. Tubuhnya ideal dan terlihat lekukan otot kecil di lengannya. Terlihat sebuah tongkat sihir panjang yang tergantung di punggungnya.
        “Ya, itulah target kita selanjutnya, Alenia. Sebuah kastil megah peninggalan Archmage Gravinwish! Bayangkan akan apa yang dapat kita jarah dari sebuah kastil megah tanpa pewaris itu! Itu akan cukup untuk kehidupan selama 7 generasi!” kata seorang pria gagah yang tampaknya adalah pimpinan kelompok itu. Dia memakai baju kaos tebal dengan zirah cincin di dalam kaos itu. Terlihat juga sebuah topi koboi di kepalanya serta sebilah pedang panjang tersarung di pinggangnya. Wajah dan tubuhnya yang penuh bekas luka mengingatkan dirinya akan pertempuran pertempuran berbahaya yang telah dia jalani.
        “Ya, jika kita tidak disihir menjadi kodok atau semacamnya saat kita memasuki kastil itu.” Kata seorang pria pendek dengan dua tombak berkilat setinggi tubuhnya yang diikat menyilang di punggungnya. Dia memakai kaos kulit tebal dan sepatu bot kulit. Wajahnya yang tampan juga dinodai oleh bekas luka.
        “Ahahahahaha, kita telah menjalani hal yang lebih parah daripada sekedar menjadi kodok. Lagipula kita ada dua orang penyihir disini. Tak ada yang perlu ditakuti.”
        Mereka sampai di pintu gerbang desa itu. Pintu gerbang itu hanya berupa kayu tebal yang dibentuk melengkung dengan sebuah ukiran indah bertuliskan Sauronix.Mereka pun memasuki desa yang masih berkesan alamiah itu.
        “Kita sudah sampai di desa ini. Apa selanjutnya?” kata seorang wanita sambil berceletuk kecil. Wanita itu berpakaian serba hitam yang cukup ketat dengan sebuah bandana hitam di kepalanya. Wajahnya cantik namun ternodai sebuah goresan luka yang memanjang dari tulang pipi kanan ke rahang bawahnya. Namun, tidak ada usaha sama sekali untuk menutupi atau menghilangkan goresan tersebut. Tangannya senantiasa memegang sebuah pedang rapier yang tersarung di pinggangnya. Mungkin akibat fobia.
        “Rileks, Sarah. Saya tidak mengumpulkan kalian semua untuk sebuah perjalanan sia sia. Saya telah menemukan mantan kepala pelayan Archmage Gravinwish yang akan memandu kita, suka maupun tidak. Ikut saya.”
        Kelima orang itu mengikuti ketuanya melintasi kerumunan warga desa yang sedang pulang ke rumah mereka dari sebuah ladang atau tambang yang berada di luar desa ini. Mereka bergerak ke utara desa itu dan berjalan menusuri sebuah jalan setapak yang ditutupi oleh rumput tinggi. Di ujung jalan itu terlihat sebuah rumah sederhana yang sangat terawat, kontras terhadap jalannya yang tidak terurus. Rumah itu dikelilingi pagar kecil yang terbuat dari kayu yang dicat putih. Di dalam pagar itu terdapat sebuah taman kecil yang tertata rapi, dengan meja dan kursi taman kecil yang indah dan cocok untuk minum the sore sambil menikmati matahari terbenam. Rumah itu dicat putih, seperti pagarnya dan beratapkan genteng dari tanah liat. Sebuah cerobong asap yang mengepulkan asap menandakan bahwa masih ada orang di dalam rumah itu. Keenam orang itu memandang cerobong asap itu sekilas dan memanjati pagar kecil itu dengan mudahnya. Rudy maju dan dengan sekejap membuka pintu rumah itu dengan dua jarum sederhana.
        Rumah itu diterangi dengan lampu api yang digantung di dinding. Terdengar suara dentingan besi di balik dapur rumah tersebut. Seorang pria besar kekar dengan pakaian sederhana dan celana panjang bersenjatakan dua golok yang tersarung di pinggangnya melangkah ke arah dapur. Terdengar suara teriakan dan hantaman sebelum seorang pria kurus dengan kaos merah polos dan celana pendek hitam ditarik keluar. Hidungnya mancung dan bibirnya tersungging tidak senang, serta matanya menyipit untuk melihat tamu tak diundang dihadapannya.
        “Ah… Brixley. Terima kasih banyak.”
        “Kalian siapa? Mau apa ke rumah saya.” Tanya pria itu tanpa gentar walaupun dipegang orang yang dua kali lebih besar darinya.
       “Ah… Tuan Bond, kami disini untuk meminta anda memandu kami ke kastil Gravinwish.”
        “Oh, kastil tua itu diselubungi oleh sebuah dinding sihir tak terlihat yang didirikan oleh Archmage itu sendiri. Bagaimana saya, seorang pria biasa dapat masuk ke dalam sana?”
        “Karena dia adalah mantan kepala pelayan Archmage itu yang menyelinap untuk mengambil emasnya.”
        “Kau… Darimana kau tau?”
        “